Singkat cerita marwan dan ayahnya mencari pesantren yang cocok untuk marwan menimba ilmu, begitu banyak pesantren yang ia kunjungi seperti pesantren haur kuning, pesantren jamanis, pesantren bahrul ulum, dan lain sebagainya.

Setelah mencari manakah pesantren yang cocok, akhirnya ia putuskan untuk mesantren di dekat kampung halamanya yang tidak jauh dari tempat tinggal orang tuanya.

Cerita dipesantrenpun hadir dalam dirinya yang notabenenya bertolak belakang dengan keinginanya,

Sifatnya yang tak perduli dengn aturan dan tak suka diataur membuat marwan di adikan sebagai objek dari kecemburuan sosial ang berada d lingkungan pesantreen, marwanpun sering melakukan pelanggaran dan tak sekali dua kali marwan membuat pengurusnya jengkel dengan tingkah lakunya,

Pada suatu ketika ia sedang bersantai di rumah warga yang tak jauh dari lingkungan pesantrenya ia di datangi dengan sembilan orang pengurus yang pengurus itu adalah senior dari pesantren tempat marwan menimba ilmu tersebut.

Marwanpun di bawa ke pesantren layaknya seorang artis yang di kawal dengan sembilan bodyguard, hukumanpun diberikan padany.

Dengan cara marwan berdiri di depan mesjid sambil mengangkat kaki dan tangan di silangkan, dengan pedenya ia melakukan hukuman tersebut tanpa ada rasa malu terhadap sesama santri.

Akan tetapi marwan merasa bersalah dan malu ketika gurunya melihat ia berdiri karna hukuman.

Setahun sudah marwan menjalani kehidupanya di pesantren dengan penuh suka rela dan kesabaran, lalu ia menagih janji dari ayahnya yang akan memberikan apa saja yang ia minta,

Hal pertama yang marwan minta adalah motor vespa, dengan senang hati ayahnya memberikan motor keinginanya itu.

Tetapi keinginanya marwan untuk melanjutkan kuliah ia simpan terlebih dahulu karna keadaan perekonomian keluarganya yang sedang memburuk diakibatkan terjadi kecelakaan atau musibah pada lahan mata pencaharian keluarganya yaitu peternakan ayam yang terbakar akibat gundukan sampah yang dibakar kemudan merambat pada peternakan ayam keluarganya

Marwan memutuskan untuk bekerja dan mengumpulkan uang untuk biyaya kualiahnya. Marwanpun kembali ke pesantren untuk berpamitan pada gurunya,

Marwan:” asalamualaikum” sambil mengetuk pintu

Guru :” waalaikumsalam, eh marwan silakan masuk, ada apa nak marwan?

Marwan : “begini pak, saya mau pamit mau memulai usaha” mimik malu dan gugup dilandanya

Guru : “ iya silakan, kalau mau memulai usaha, tetapi kalau tidak usaha atau bekerja kembali lagi ke pesantren”

Marwan :” iya pak, mohon do’anya” sahutnya

Guru :” iya bapak do’akan semoga lancar”

Marwan pamit meninggalkan gurunya dengan kalimat salam, setelah itu ia kembali kerumah untuk mempersiapkan berkas berkas yang akan ia bawa guna sebagai surat lamaranya di perantauan.